JAKARTA – Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan pidato politik yang mendalam dalam acara peringatan Refleksi 30 Tahun Kudatuli di Jakarta pada Sabtu (27/7/2024), di mana ia mengingatkan seluruh aparat negara mulai dari TNI, Polri, hingga ASN untuk menjaga netralitas dan tidak menjadi alat kekuasaan, demi menghormati sejarah perjuangan demokrasi Indonesia yang pernah diwarnai pertumpahan darah.
Megawati secara tegas menyebut bahwa esensi utama dari Peristiwa Kudatuli adalah manifestasi dari ketidakadilan struktural yang terjadi pada masa itu. Tragedi yang terjadi pada 27 Juli 1996 tersebut bukan sekadar konflik internal partai, melainkan bentuk intervensi kekuasaan yang brutal terhadap kedaulatan partai politik dan hak demokrasi rakyat.
“Peristiwa 27 Juli itu bukan peristiwa biasa. Itu adalah manifestasi dari ketidakadilan struktural. Bayangkan, kantor partai yang sah bisa diserbu seperti itu,” ujar Megawati dalam pidatonya yang disimak dengan khidmat oleh kader PDI Perjuangan dari berbagai generasi.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden ke-5 Republik Indonesia ini menekankan bahwa sejarah kelam masa lalu harus menjadi pelajaran bagi para pemimpin masa kini. Megawati mengingatkan bahwa aparat negara memiliki sumpah setia kepada negara dan bangsa, bukan kepada kepentingan kelompok atau individu tertentu yang sedang berkuasa.
“Saya ingatkan kepada aparat negara, TNI, Polri, dan ASN. Kalian itu digaji oleh rakyat. Janganlah mau untuk digunakan sebagai alat untuk menindas kehendak rakyat. Netralitas itu wajib dijalankan demi kesehatan demokrasi kita,” tegas Megawati dengan nada yang lugas.
Ia juga menambahkan bahwa kekuasaan tidaklah kekal dan selalu ada batasnya. Megawati menekankan pentingnya moralitas dan etika dalam menjalankan roda pemerintahan agar tidak mengulangi kesalahan-kesalahan struktural yang pernah terjadi di era Orde Baru.
“Pemimpin itu ada masanya, datang dan pergi. Tetapi institusi negara harus tetap berdiri tegak di atas semua golongan. Jangan sampai sejarah pahit seperti Kudatuli terulang kembali hanya karena nafsu kekuasaan yang mengabaikan hukum dan keadilan,” lanjut Megawati.
Megawati juga mengenang bagaimana para kader partai saat itu bertahan dengan gigih di kantor DPP PDI, Jalan Diponegoro, demi menjaga martabat partai. Baginya, semangat perlawanan terhadap ketidakadilan struktural itulah yang melahirkan PDI Perjuangan yang kuat hingga saat ini.
“Esensi utama dari Peristiwa Kudatuli adalah manifestasi dari ketidakadilan struktural yang terjadi pada masa itu. Ini yang tidak boleh dilupakan oleh generasi muda. Keadilan harus ditegakkan, dan aparat harus berdiri di tengah, netral, untuk menjamin keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali,” pungkas Megawati mengakhiri arahannya.
Tag







