KUTAI KARTANEGARA – Sejumlah anak-anak sekolah di Desa Santan Ulu, Kecamatan Marang Kayu, Kabupaten Kutai Kartanegara, setiap harinya harus bertaruh nyawa dengan menyeberangi sungai menggunakan kereta gantung manual demi bisa menuntut ilmu di sekolah akibat tidak adanya akses jembatan yang memadai di wilayah tersebut.
Pemandangan memprihatinkan ini menjadi rutinitas wajib bagi para siswa yang tinggal di area perkebunan. Dengan menggunakan kotak kayu sederhana yang digantungkan pada seutas tali baja (sling), mereka meluncur di atas aliran sungai yang cukup dalam. Jika salah perhitungan atau tali mengalami kendala, risiko terjatuh ke sungai pun membayangi mereka setiap saat.
Kondisi ini terpaksa dilakukan karena jalur darat alternatif lainnya membutuhkan waktu tempuh yang sangat lama dan jarak yang jauh memutar. Demi efisiensi waktu agar tidak terlambat masuk kelas, kereta gantung rakitan ini pun menjadi pilihan utama, meskipun aspek keamanannya sangat minim.
Salah satu orang tua siswa mengungkapkan kekhawatiran mendalamnya setiap kali melepas anaknya berangkat sekolah. Namun, ia mengaku tidak memiliki pilihan lain agar sang buah hati tetap bisa mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak-anak lainnya di perkotaan.
“Setiap hari kami merasa was-was. Tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak lewat kereta gantung ini, anak-anak harus memutar sangat jauh dan memakan waktu berjam-jam untuk sampai ke sekolah. Harapan kami hanya satu, semoga pemerintah segera membangunkan jembatan yang layak bagi kami di sini,” ungkapnya dengan nada penuh harap.
Risiko kecelakaan kerja atau jatuh ke sungai bukan sekadar isapan jempol. Saat musim hujan tiba dan debit air sungai meningkat, arus di bawah kereta gantung tersebut menjadi sangat deras, yang tentunya menambah tingkat bahaya bagi siapa saja yang melintas.
Ketiadaan infrastruktur jembatan di Desa Santan Ulu ini menjadi potret buram akses pendidikan di wilayah pelosok. Warga setempat sangat berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pihak terkait untuk segera memberikan solusi permanen bagi mobilitas warga, khususnya bagi para generasi penerus bangsa.
“Kami hanya ingin sekolah dengan aman. Kalau ada jembatan, kami tidak perlu takut jatuh ke sungai lagi setiap pagi dan siang hari saat pulang sekolah,” ujar salah seorang siswa yang baru saja selesai menyeberangi sungai tersebut.
Hingga saat ini, anak-anak Santan Ulu masih terus berjuang melawan rasa takut. Mereka tetap bersemangat menyeberangi sungai dengan cara yang berbahaya tersebut, membuktikan bahwa keterbatasan infrastruktur tidak memadamkan api semangat mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik melalui bangku sekolah.
Tag







