BOGOR – Camat Rancabungur, Deden Sumantri (Who), memberikan klarifikasi resmi di wilayah Kabupaten Bogor (Where) pada beberapa waktu lalu (When) untuk menanggapi tudingan publik mengenai dugaan pemaksaan permintaan maaf kepada seorang tukang cukur (What) lantaran tidak mengibarkan bendera Merah Putih di depan tempat usahanya (Why) guna meluruskan informasi yang simpang siur di media sosial (How).
Pernyataan ini muncul setelah sebuah video viral memperlihatkan seorang pria penyedia jasa pangkas rambut menyampaikan permohonan maaf secara terbuka karena belum memasang bendera di bulan kemerdekaan. Banyak pihak menyayangkan aksi tersebut karena dianggap sebagai bentuk intimidasi dari pejabat publik terhadap rakyat kecil.
Namun, Deden Sumantri dengan tegas membantah narasi yang menyebut dirinya melakukan tekanan. Ia menjelaskan bahwa kehadirannya bersama jajaran ke lokasi tersebut murni untuk memberikan imbauan sesuai dengan instruksi pemerintah terkait perayaan HUT RI ke-79.
“Saya tidak pernah memaksa yang bersangkutan untuk meminta maaf. Kami hanya datang untuk mengimbau agar memasang bendera Merah Putih, karena ini adalah bulan Agustus, bulan kemerdekaan kita semua,” ujar Deden Sumantri memberikan pembelaan.
Deden menambahkan bahwa pihaknya sedang menjalankan fungsi pengawasan dan sosialisasi surat edaran bupati mengenai pemasangan bendera dan umbul-umbul di lingkungan masyarakat. Ia mengaku hanya bertanya secara persuasif kepada pemilik tempat usaha tersebut mengenai alasan belum terpasangnya simbol negara tersebut.
“Mungkin yang bersangkutan merasa tidak enak atau bagaimana, sehingga membuat pernyataan tersebut. Tapi sekali lagi, dari pihak kecamatan tidak ada instruksi atau paksaan agar dia minta maaf secara terbuka seperti itu,” tambahnya lagi untuk mempertegas posisi pihak kecamatan.
Menurut Deden, peristiwa yang terjadi di lapangan tidaklah setegang apa yang dibayangkan oleh para netizen di media sosial. Ia mengklaim komunikasi yang terjalin saat itu berlangsung dengan normal dan tanpa adanya ancaman sanksi apa pun terhadap si tukang cukur.
“Terkait permintaan maaf itu muncul dari keinginan yang bersangkutan sendiri, kami tidak ada paksaan atau intimidasi apa pun. Kami datang ke sana dalam rangka imbauan karena saat itu kan momen HUT RI. Kami hanya menanyakan kenapa belum pasang bendera,” jelasnya.
Pihak Kecamatan Rancabungur berharap agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh potongan-potongan video yang tidak menampilkan konteks secara utuh. Deden menekankan bahwa nasionalisme harus dipupuk bersama, namun tetap dengan cara-cara yang sesuai aturan tanpa mengesampingkan sisi kemanusiaan.
“Kami akan terus melakukan pendekatan yang humanis kepada warga terkait aturan-aturan yang ada, termasuk imbauan kenegaraan seperti ini. Kami pastikan hubungan dengan warga dan pelaku usaha di Rancabungur tetap harmonis,” pungkas Deden Sumantri menutup pernyataannya.
Tag






